Sabtu, 13 Februari 2010

Furniture & Handicraft Lamongan

0 komentar
Saat ini, jumlah industri kecil di Lamongan, baik formal atau yang non-formal, mencapai 23.843 unit. Di antara mereka industri kecil dan kerajinan rakyat, beberapa produk telah diekspor ke pasar Korea, Belgia, Australia, dan Jerman. Diantara kerajinan-kerajinan itu adalah kerajinan kayu, kerajinan tanah ware, kerajinan anyaman bambu, sepeda-pelana kerajinan, kerajinan tas yang terbuat dari Enceng Gondok (water hyacinth) di Mantup Lamongan dan desa, pusat industri kecil ATBM dibatasi Parengan tenun di Madura, Batik tulisan tangan kerajinan, bordir, dan kerajinan emas di Sendang Agung dan Sendang Dhuwur Paciran.
Industri rumahan yang memproduksi pakaian dan jaket olahraga juga cepat tumbuh di Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, memasok kebutuhan perdagangan pasar di Pasar Turi, Kembang Jepun pasar dan pasar Klewer. Ini juga memenuhi kebutuhan seragam sekolah di beberapa daerah Jawa Timur dan Kalimantan provinsi.
industri karpet di Lamongan telah dibahas dan mendominasi pasar di Jawa Timur, Solo, Yogyakarta, Bali, dan Bandung karena kemasan praktis, tahan lama, dan harga dapat dicapai untuk setiap lapisan masyarakat.
Selain itu, berbagai macam kerajinan rakyat juga tumbuh dan berkembang di desa-desa seperti bos kopyah (Moslem caps), plastik-anyaman tas belanja, kerajinan anyaman bambu, ikan asin, kecap (saoy saus), bata merah, bejana tanah liat dan makanan produk Jenang dan Wingko babat, yang telah terkenal di seluruh wilayah.

Kerajinan Tas
Industri kerajinan tas ini terletak di Jl. Sunan Drajat
146 , Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kantong yang dibuat dari tanaman eceng gondok dengan hiasan yang indah adalah menembus pasar ekspor.

Mebel Bambu
Industri bambu terletak di Jl. Sunan Drajat
146 , Lamongan Mantub kabupaten dan di desa. Industri ini memproduksi berbagai jenis rumah tangga dan interior yang terbuat dari bambu.

Terakota
Terakota atau tembikar kerajinan industri rumah tangga yang terletak di Jl. Pembangunan
7 Lamongan, telah sukses untuk mencapai pasar ekspor seperti Korea, Belgia, Australia dan Jerman.

Cobek Industri
Cobek adalah kata Indonesia untuk mortir dan alu. Cobek ini tidak hanya dibuat untuk kebutuhan pasar lokal, tetapi juga diekspor ke beberapa negara.

Handicraft Batok Kelapa
Kerajinan unik lainnya dari Lamongan, adalah tempurung kelapa yang memproduksi kerajinan dan unik dalam berbagai bentuk. Mereka kerajinan tangan unik biasanya dibeli oleh para pengunjung Lamongan pariwisata atau untuk ekspor.

Gaun Pengantin Traditional
Industri lain yang khas Lamongan penyiangan pakaian tradisional.
Gaun pengantin ini biasanya dipakai oleh jembatan dan pengantin pria dalam upacara penyiangan.

Senin, 04 Januari 2010

Museum Purbakala Sangiran

0 komentar

Tanah Jawa dikenal sebagai salah satu tempat hunian manusia purba. Terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di berbagai tempat di Jawa, seperti di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong, dan Sambungmacan (Jawa Tengah), serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Temuan pertama yang dicatat sejarah adalah ekskavasi yang dilakukan Eugene Dubois di Desa Ngandong, Trinil, Mojokerto, Jawa Timur, yang berhasil menemukan fosil Pithecanthropus Erectus pada tahun 1893. Sekitar 40 tahun kemudian, terungkap bahwa selain di Trinil dan Perning, banyak fosil manusia purba dan peralatannya ditemukan di daerah Sangiran, Kabupaten Sragen, sekitar 20 kilometer dari Kota Surakarta. Daerah ini merupakan bagian dari kaki bukit Gunung lawu dan dialiri Sungai Cemoro yang bermuara di Sungai Bengawan Solo.


Sebelum kedatangan Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald atau yang dikenal dengan nama GHR. von Koenigswald, daerah perbukitan (dome) Sangiran hanya diketahui sebagai perbukitan tandus. Koenigswald adalah peneliti yang menemukan sejumlah alat serpih dari batuan jaspis dan kalsedon pada tahun 1934 di daerah Sangiran. Temuan alat-alat peninggalan manusia purba dalam jumlah besar itu (sekitar 1.000 lebih alat dari batu) dikenal dengan sebutan “Sangiran Flakes-industry” (Jatmiko, dalam http://indoarchaeology.com).


Temuan awal tersebut disusul dengan temuan penting berikutnya, yakni fosil rahang bawah (mandibula) yang diperkirakan sebagai fosil Meganthropus paleojavanicus, serta fosil Pithecanthropus erectus yang dikenal sebagai “manusia Jawa”. Penemuan penting ini sontak menarik minat para peneliti lainnya untuk menelusuri jejak-jejak kehidupan purba di bukit Sangiran. Penelitian-penelitian selanjutnya melibatkan para pakar dari Indonesia, seperti T. Jacob dan S. Sartono yang memulai ekskavasi sekitar tahun 1960-an. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan Balai Arkeologi Yogyakarta juga berperan besar dalam penelitian-penelitian yang berkaitan dengan fosil-fosil purba di Sangiran (Jatmiko, dalam http://indoarchaeology.com).



Fosil-fosil tengkorak manusia purba di Museum Sangiran
Sumber Foto: http://www.pbase.com/rileyuni/sangiran


Hingga saat ini, terungkap bahwa sekitar 65 persen fosil manusia purba di Indonesia ditemukan di lokasi ekskavasi Sangiran. Jumlah tersebut ternyata mencakup sekitar 50 persen dari populasi takson homo erectus di dunia. Itulah mengapa banyak para peneliti asing tertarik untuk mengunjungi dan meneliti situs terkemuka ini. Menariknya, kawasan kubah Sangiran (Sangiran Dome) yang memiliki luas sekitar 56 kilometer persegi, meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, ternyata merupakan situs yang sangat kaya. Kawasan ini tidak saja menjadi tempat ditemukannya berbagai fosil manusia purba, melainkan juga berbagai fosil makhluk hidup dan tumbuhan yang beraneka, serta lapisan-lapisan tanah yang “terbuka” secara alami yang sangat bermanfaat bagi penelitian-penelitian geologis.


Kubah Sangiran dilalui oleh Kali Cemoro yang membuat kawasan ini secara alamiah mengalami erosi, sehingga lapisan-lapisan tanah yang berusia sekitar 2 juta tahun hingga 200 ribu tahun yang lalu, atau lapisan tanah dari masa pliosen akhir hingga akhir pleistosen tengah, dapat terlihat (http://id.wikipedia.org). Tak hanya itu, setiap lapisan juga menyimpan informasi mengenai kehidupan masa lampau yang terekam melalui jenis tanah, batuan, tumbuhan, fosil makhluk hidup, serta peralatan-peralatan yang digunakan. Bukan saja fosil-fosil makhluk hidup di darat, kawasan Sangiran juga menyimpan ribuan fosil-fosil makhluk hidup laut, karena kawasan ini pada jutaan tahun yang lalu merupakan hamparan dasar laut. Oleh karena aktivitas geologis, daerah ini kemudian naik menjadi dataran (http://id.wikipedia.org).


Untuk melindungi situs pubakala ini, pemerintah menetapkan kawasan Sangiran sebagai cagar budaya ditandai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Antusiasme dunia internasional juga terlihat dengan dikukuhkannya situs Sangiran sebagai salah satu warisan dunia (world heritage) pada tahun 1996. Penetapan ini dilakukan oleh Komite World Heritage UNESCO pada ulang tahun ke-20 organisasi ini di Kota Merida, Meksiko, dengan nomor urut 593 (http://www.lintasdaerah.com).


Selain menjadi lokasi penelitian, sejak tahun 1986, di kawasan ini dibangun sebuah museum untuk menampung minat para pelancong mengetahui jejak-jejak manusia purba. Museum Purbakala Sangiran diresmikan pada 17 Agustus 1988 dengan memamerkan berbagai temuan fosil dan peralatan manusia purba yang ditemukan di kawasan ini.


B. Keistimewaan

Museum Purbakala Sangiran atau yang biasa disingkat Museum Sangiran merupakan museum dengan koleksi fosil dan benda-benda kepurbakalaan mencapai sekitar 13.809 koleksi, sehingga dianggap sebagai museum purbakala terlengkap di Indonesia. Dari ribuan fosil tersebut, sekitar 2.934 fosil disimpan di ruang pameran Museum Sangiran, sementara 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan (http://gemolong.multiply.com).


Museum ini sangat bermanfaat untuk mengetahui atau memperdalam pengetahuan yang berkaitan dengan teori evolusi, ilmu antropologi, arkeologi, geologi, serta paleoantropologi.


Mengunjungi museum yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen ini, Anda akan mendapati bangunan dengan arsitektur rumah joglo yang dibangun di atas areal seluas 16.675 meter persegi. Bangunan tersebut terbagi ke dalam beberapa ruangan, antara lain ruang pameran atau ruang utama, ruang laboratorium, ruang pertemuan, ruang display bawah tanah, ruang audio visual, serta ruang penyimpanan fosil.


Memasuki ruang utama, wisatawan akan memperoleh informasi lengkap mengenai proses ekskavasi yang dilakukan von Koenigswald yang berhasil menemukan fosil Pithecantropus erectus atau yang juga dikenal dengan nama kera besar berjalan tegak. Selain Pithecantropus erectus, museum ini juga memamerkan replika fosil-fosil lainnya, seperti Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus), Meganthropus palaeojavanicus, Pithecanthropus erectus, Homo soloensis, Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, serta Homo sapiens. Meskipun hanya replika dari fosil yang asli, namun tiruan tersebut dibuat secara detail dan mendekati bentuk aslinya. Fosil asli saat ini disimpan di Museum Geologi Bandung dan Laboratorium Paleoantropologi UGM, Yogyakarta.


Selain fosil manusia purba, dipamerkan juga berbagai fosil binatang purba, antara lain fosil gajah purba yang terdiri dari Elephas namadicus, Stegodon trigonocephalus, Mastodon sp, kerbau (Bubalus palaeokarabau), harimau (Felis palaeojavanica), babi (Sus sp), badak (Rhinocerus sondaicus), sapi atau bateng (Bovidae), rusa (Cervus sp), serta kuda nil (Hippopotamus sp). Ada juga fosil binatang-binatang air yang terdiri dari buaya (Crocodillus sp), ikan, kepiting, gigi ikan hiu, moluska (Pelecypoda dan Gastropoda ), serta kura-kura (Chelonia sp).


Untuk memberikan gambaran mengenai cara hidup manusia purba, museum ini menyediakan diorama yang menggambarkan patung manusia purba di tengah ekosistemnya. Kita dapat melihat raut wajah, bentuk tubuh, dan lingkungan rekaan tersebut untuk memperoleh pemahaman mengenai cara hidup mereka. Selain itu, dipajang pula berbagai peralatan dari batu, antara lain alat serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak. Alat-alat dari jaman arkais tersebut digunakan oleh manusia purba untuk membunuh binatang, memotong daging atau tumbuh-tumbuhan, serta berfungsi juga sebagai senjata. Di museum ini, para pengunjung juga diperlihatkan beberapa jenis batuan yang terdiri dari batuan meteorit/taktit, kalesdon, diatome, agate, dan ametis.


Diorama yang menggambarkan kehidupan manusia purba
Sumber Foto: http://www.pbase.com/rileyuni/sangiran

Di samping menimba pengetahuan melalui fosil dan benda-benda purbakala tersebut, wisatawan juga dapat memperdalam pengetahuan dengan menonton film tentang sejarah situs Sangiran dan gambaran visual di ruang audio visual. Film tersebut meggambarkan proses ekskavasi dan gambaran hidup manusia purba yang berjalan tegak dengan durasi selama 20 menit.

C. Lokasi

Museum Purbakala Sangiran terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sementara situs Sangiran sendiri (Sangiran Dome) terletak di tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, antara lain Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh.

D. Akses

Situs Sangiran terletak sekitar 17 kilometer arah utara Kota Solo. Dari Kota Solo, wisatawan bisa menyusuri jalur Kalijambe untuk sampai ke Museum Sangiran. Apabila berangkat dari Yogyakarta, maka Anda harus menuju Kota Solo, kemudian mengikuti jalur ke utara menuju Kalijambe-Sangiran. Jika berangkat dari Semarang, Anda dapat menempuh jarak sekitar 100 kilometer, melalui Purwodadi, Kalijambe, kemudian Sangiran. Rute lainnya, dari Semarang bisa melewati Salatiga, Karang Gede (Boyolali), Gemolong, Kalijambe, kemudian Sangiran. Sedangkan bila berangkat dari Surabaya, wisatawan harus menempuh jarak sekitar 280 kilometer, melewati jalur Madiun-Ngawi, kemudian memasuki Sragen dan dilanjutkan menuju jalur Kalijambe-Sangiran.

E. Harga Tiket

Tiket untuk memasuki situs Sangiran dan Museum Purbakala Sangiran berbeda. Untuk memasuki Museum Purbakala Sangiran, wisatawan hanya dikenai biaya Rp1.500,00 per wisatawan. Namun, sebelum memasuki museum, wisatawan akan dikenai berbagai komponen biaya lainnya, yaitu biaya masuk kawasan situs dan biaya parkir. Biaya tiket untuk memasuki kawasan situs Sangiran dibedakan antara wisatawan dalam negeri dan wisatawan asing. Wisatawan domestik dikenai tiket sebesar Rp2.000,00, sedangkan wisatawan asing sebesar Rp7.500,00.

Bagi Anda yang membawa kendaraan juga dikenai biaya parkir, yakni Rp500,00 untuk motor, Rp1.000,00 untuk mobil, dan Rp5.000,00 untuk bus. Apabila hendak mengadakan penelitian, maka dikenai biaya tambahan sebesar Rp 50.000,00 per orang. Selain komponen-komponen biaya tersebut, wisatawan yang ingin memanfaatkan informasi melalui ruang audio visual (minimal untuk rombongan sekitar 25 orang), maka ada biaya tambahan sebesar Rp 2.000,00 per orang.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Untuk meningkatkan pelayanan kepada para wisatawan, di kawasan situs Sangiran telah dibangun sebuah menara pandang. Para wisatawan bisa menikmati keindahan dan keasrian panorama di sekitar kawasan Sangiran dari ketinggian melalui menara pandang tersebut. Jika ingin lebih jelas, maka wisatawan dapat menggunakan teleskop yang disewakan. Tak hanya itu, situs Sangiran juga telah dilengkapi dengan sarana audio visual, pemandu (guide), taman bermain untuk anak-anak, serta fasilitas mobil mini (mini car) yang dapat digunakan oleh wisatawan atau peneliti yang ingin berkeliling di situs Sangiran.

Di tempat ini juga telah disediakan sebuah penginapan yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan maupun para peneliti. Wisma dengan bentuk rumah joglo tersebut telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti lobby atau pendopo yang lengkap dengan perangkat meja-kursi untuk pertemuan, kamar-kamar yang representatif, ruang keluarga, serta tempat parkir yang memadai. Wisatawan yang ingin pulang dengan membawa suvenir khas zaman arkais dapat membelinya di warung-warung suvenir yang ada di sekitar situs. Suvenir-suvenir khas dari kampung purba ini kebanyakan tiruan alat-alat manusia purba dari batu, serta patung-patung mini Pithecanthropus erectus.

(Dari berbagai sumber)

Museum Purbakala Trinil

0 komentar
Banyak ahli teori evolusi percaya bahwa peneliti pertama yang menemukan mata rantai yang hilang dari teori evolusi manusia adalah Eugene Dubois, seorang dokter berkebangsaan Belanda. Ia berangkat dari negeri kincir angin untuk membuktikan asumsi ini: bahwa mata rantai yang menghubungkan evolusi dari primata menjadi manusia modern terdapat di kawasan tropis, sebab diperkirakan “manusia pengantara” ini sudah tidak memiliki bulu seperti nenek moyang sebelumnya

Dubois berangkat menggunakan kapal SS Prinses Amalia menuju Sumatra, tepatnya ke daerah Payakumbuh, Sumatra Barat. Di tempat ini ia melakukan penggalian di pegunungan dan gua-gua kapur di sepanjang Payakumbuh. Hasilnya ternyata mengecewakan. Fosil-fosil manusia yang ia temukan terlalu muda, sehingga tidak sesuai dengan harapannya. Setelah menerima informasi bahwa di Jawa ditemukan fosil manusia wajak (Homo wajakensis), Dubois akhirnya memindahkan proyek penggaliannya ke tanah Jawa, mengikuti alur sungai Bengawan Solo. Pada sebuah lekukan sungai, di daerah yang disebut Trinil, Ngawi, Jawa Timur, ia menemukan berbagai fosil hewan purba. Tak hanya itu, di tempat ini ia berhasil menemukan gigi dan atap tengkorak yang menyerupai kera .

Setahun kemudian, 15 meter dari tempat penemuan pertama, ia menemukan tulang paha kiri yang seusia dengan fosil sebelumnya, tetapi mirip dengan tulang paha manusia modern. Ini artinya, manusia purba tersebut telah berjalan tegak. Oleh sebab itu, Dubois kemudian menamakan fosil temuannya sebagai Pithecanthropus erectus, alias manusia kera berjalan tegak. Banyak ahli percaya bahwa temuan Dubois ini adalah yang selama ini dicari untuk membuktikan kesahihan teori evolusi. Sebab Pithecanthropus erectus seolah mewakili proses evolusi dari primata menjadi manusia, ini misalnya terlihat dari volume otak 900 cc yang berada antara kapasitas manusia dan kera, serta tulang paha yang menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.

Sejak penemuan Pithecanthropus erectus itu, daerah Trinil kemudian mendunia. Masyarakat dunia serta merta mengenal titik kecil di tengah Pulau Jawa itu sebagai salah satu tempat penemuan penting dalam perkembangan teori evolusi, ilmu antropologi, paleoantropologi, serta arkeologi. Penelitian Dubois sendiri berlangsung antara 1891-1895. Tempat penemuan fosil Pithecanthropus erectus telah ditandai dengan sebuah monumen yang dibangun oleh Dubois pada tahun 1895.

Namun, lokasi penelitian Dubois ini seolah hanya menjadi lahan penelitian. Artinya fosil-fosil yang dikenal masyarakat internasional tidak lagi berada di Trinil, melainkan di Belanda dan Jerman. Masyarakat setempat yang menemukan fosil-fosil manusia maupun hewan purba juga cenderung menjualnya kepada pihak swasta. Kondisi ini cukup memprihatinkan. Namun, untunglah salah seorang warga bernama Wirodihardjo memiliki kepedulian dengan mengoleksi fosil dan benda-benda purbakala yang ditemukan oleh masyarakat setempat. Dengan telaten ia mengganti fosil-fosil yang ditemukan warga dengan uang atau bahan-bahan kebutuhan pokok, sehingga warga dengan rela menyerahkan temuannya. Sebab itulah, Wirodihardjo kemudian lebih dikenal dengan sebutan Wiro Balung (balung = tulang). Nama ini disematkan oleh masyarakat setempat karena ia dikenal sebagai pengumpul tulang-tulang (fosil).

Dari hari ke hari, koleksi “tulang-belulang” yang dikumpulkan Wirodihardjo kian bertambah. Fosil-fosil tersebut umumnya ditemukan warga atau oleh Wirodihardjo sendiri di tiga desa di kawasan Trinil, yakni Desa Kawu, Desa Gemarang, dan Desa Ngancar. Melihat potensi besar tersebut, pemerintah daerah akhirnya membangun sebuah museum untuk menampung koleksi fosil-fosil yang dikumpulkan Wirodihardjo. Pada tahun 1980-1981, bangunan museum telah selesai dibangun. Namun, peresmiannya baru dilakukan pada 20 November 1991 oleh Gubernur Jawa Timur, Soelarso. Sayangnya, ketika museum tersebut diresmikan, Wirodihardjo telah meninggal setahun sebelumnya, yakni pada 1 April 1990.

Lokasi museum ini mengambil tempat di bekas lahan ekskavasi yang dilakukan oleh Dubois, tepatnya di dekat monumen yang dibangun oleh Dubois. Selain untuk mengenalkan kehidupan manusia, flora dan fauna purba, serta ekosistemnya, museum ini juga bertujuan untuk mengingatkan pada dunia bahwa di titik kecil di pulau jawa inilah ditemukan fosil yang dianggap menjawab misteri mengenai mata rantai yang hilang dari proses evolusi manusia.

B. Keistimewaan

Anda mungkin masih ingat pelajaran sejarah purbakala ketika duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah menengah, bahwa Indonesia merupakan salah satu lokasi penemuan penting yang mengungkap misteri kehidupan manusia purba. Adalah Eugene Dubois yang banyak dihafal oleh murid-murid sebagai penemu manusia Jawa atau Pithecanthropus erectus. Dan Trinil, di Kabupaten Ngawi, merupakan salah satu lokasi penemuan Pithecanthropus erectus yang kerap kali ditanyakan dalam lembar-lembar ujian sejarah purbakala. Dengan mengunjungi museum ini, Anda akan diingatkan kembali pada pelajaran-pelajaran sejarah purbakala tersebut. Tetapi bukan dengan menghafal di awang-awang, melainkan Anda akan membuktikannya dengan melihat sendiri seperti apa bentuk-bentuk fosil purba tersebut.

Museum ini terletak di bantaran Sungai Bengawan Solo. Hal ini mengingatkan para pelancong bahwa di sekitar bantaran sungai inilah dahulu manusia purba tinggal dan membangun kebudayaannya. Museum Trinil memang menjadi salah satu obyek wisata sejarah yang penting, baik bagi wisatawan biasa maupun pelajar atau peneliti. Keberadaan museum ini telah memberikan sarana bagi mereka yang ingin mengetahui kehidupan manusia purba, ekosistemnya, serta flora dan fauna yang hidup pada jaman tersebut. Kawasan Trinil merupakan salah satu kawasan yang menjadi penemuan fosil-fosil dari masa pliosen, sekitar 1,5 juta tahun yang lalu, hingga zaman pleistosen berakhir, yaitu sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.

Menginjakkan kaki di halaman museum, wisatawan akan disambut oleh gapura museum dengan latar belakang patung gajah purba. Patung gajah ini cukup besar untuk ukuran gajah sekarang, dengan gading yang sangat panjang, dan anatominya lebih mirip Mammoth tetapi tanpa bulu. Selain patung gajah, di halaman museum juga terdapat monumen penemuan Pithecanthropus erectus yang dibuat oleh Dubois. Pada monumen tersebut tertulis: “P.e. 175m (gambar anak panah), 1891/95″. Maksud dari tulisan tersebut adalah, Pithecanthropus erectus (P.e.) ditemukan sekitar 175 meter dari monumen itu, mengikuti arah tanda panah, pada ekskavasi yang dilakukan dari tahun 1891 hingga 1895.

Setelah cukup menikmati patung gajah dan monumen tersebut, wisatawan dapat menimba informasi lebih jauh dengan melihat koleksi museum yang berjumlah sekitar 1.200 fosil yang terdiri dari 130 jenis. Museum Trinil memamerkan beberapa replika fosil manusia purba, di antaranya replika Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Karang Tengah (Ngawi), Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Trinil (Ngawi), serta fosil-fosil yang berasal dari Afrika dan Jerman, yakni Australopithecus Afrinacus dan Homo Neanderthalensis. Kendati hanya berupa replika, namun fosil tersebut dibuat mendekati bentuk aslinya. Sementara fosil-fosil yang asli disimpan di beberapa museum di Belanda dan Jerman.

Selain fosil manusia, museum ini juga memamerkan fosil tulang rahang bawah macan (Felis Tigris), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus), serta fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus). Fosil-fosil hewan ini umumnya lebih besar dan panjang daripada ukuran hewan sekarang. Misalnya saja fosil gading gajah purba yang panjangnya mencapai 3,15 meter, bandingkan dengan gajah sekarang yang panjang gadingnya tak lebih dari 1,5 meter.

Manusia purba
C. Lokasi
Museum Purbakala Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

D. Akses
Museum Purbakala Trinil berada sekitar 5 kilometer arah utara dari jalan raya Solo-Surabaya. Dari Kota Ngawi, museum ini terletak sekitar 13 kilometer arah barat daya. Untuk menuju museum ini, dari Kota Ngawi wisatawan dapat menggunakan jasa bus umum arah Solo. Wisatawan turun di gapura besar yang menjadi penanda menuju Museum Trinil. Dari gapura tersebut, wisatawan dapat mencarter ojek untuk sampai ke museum dengan menempuh jarak sekitar 5 kilometer. Apabila menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Ngawi, wisatawan sebaiknya bertanya arah yang tepat menuju museum, sebab papan penunjuk menuju museum ini masih sangat minim.

E. Harga Tiket

Harga tiket untuk memasuki Museum Trinil adalah Rp.1000,00 untuk anak-anak dan Rp2.000,00 untuk orang dewasa. Tiket ini dibayarkan di pos penjaga yang terdapat di luar museum. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, Anda dikenai biaya parkir, yaitu Rp500,00 untuk motor dan Rp1.000,00 untuk mobil.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Museum Purbakala Trinil telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti lahan parkir yang cukup luas, pendopo atau ruang pertemuan, kantor layanan informasi, tempat istirahat bagi tamu atau peneliti yang ingin tinggal selama beberapa hari, mushola, serta toilet. Selain berbagai fasilitas tersebut, wisatawan yang ingin beristirahat usai mengunjungi museum bisa rehat sejenak dengan duduk-duduk di taman yang dilengkapi dengan sarana bermain anak. Taman ini telertak di sebelah utara museum. Taman bermain anak tersebut menyediakan berbagai sarana permainan anak, seperti ayunan, papan seluncur, serta jungkat-jungkit. Selain dihiasi oleh bunga-bunga, taman ini juga diperindah dengan patung-patung hewan yang merupakan rekonstruksi dari bentuk-bentuk hewan purba.

Bagi Anda yang ingin melihat langsung aliran Bengawan Solo dapat duduk-duduk di kursi panjang yang menghadap sungai yang terkenal berkat lagu keroncong ciptaan Gesang ini. Sungai ini memanjang persis di sebelah museum dengan dilingkupi rerimbunan pohon yang menyejukkan suasana. Apabila merasa lapar, para pelancong dapat memesan makanan seperti tempe lodeh plus telur dadar dengan harga yang sangat terjangkau di warung-warung makan di depan museum.

(dari berbagai sumber)



Sabtu, 02 Januari 2010

Museum Empu Tantular

0 komentar
Kabupaten Sidoarjo - Jawa Timur - Indonesia
Museum Empu Tantular terletak di Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo

A. Selayang Pandang
Provinsi Jawa Timur memiliki sebuah museum dengan nama Museum Negeri Mpu Tantular. Mpu Tantular adalah nama seorang pujangga di jaman Majapahit (abad 14) yang menggubah kakawin (kesusateraan Jawa) bertajuk Sutasoma. Dari karya ini muncul konsep Bhinneka Tunggal Ika yang diadopsi sebagai motto bangsa Indonesia. Untuk menghormati pujangga besar tersebut, maka Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengabadikannya sebagai nama museum.

Museum Mpu Tantular dirintis oleh Von Faber, seorang kolektor berkebangsaan Jerman yang menetap dan menjadi warga Surabaya. Pada tahun 1933, Von Faber mendirikan Stedelijk Historisch Museum yang menjadi cikal bakal Museum Mpu Tantular. Akan tetapi, lembaga tersebut baru diresmikan pada tanggal 25 Juni 1937. Museum ini berupaya mengumpulkan koleksi sejarah berkaitan dengan kota Surabaya.
Kecintaan Von Faber terhadap benda bersejarah merupakan bagian dari upayanya menyusun buku Old Surabaya dan New Surabaya yang terbit tahun 1933. Von Faber mulai mengumpulkan data untuk buku tersebut sejak tahun 1922. Melalui Stedelijk Historisch Museum, dirintislah sebuah museum yang mulanya hanya merupakan ruang kecil di Readhius Ketabang. Karena bertambahnya koleksi, maka bangunan museum dipindahkan ke Jalan Pemuda, Surabaya.

Sepeninggal Von Faber pada tanggal 30 September 1955, museum tersebut terbengkalai. Baru pada 1 November 1974 diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan diberi nama Museum Negeri Mpu Tantular. Pada tahun 1975, lokasi museum dipindah ke Jalan Taman Mayangkara 6 Surabaya, yang peresmiannya dilakukan pada 12 Agustus 1977. Sejak tahun 2004 lalu, Museum Mpu Tantular telah dipindahkan ke lokasi baru di Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

B. Keistimewaan
Museum Negeri Mpu Tantular memiliki koleksi dari masa pra sejarah hingga jaman modern, mulai dari batuan dan fosil, peralatan tradisional, keramik, benda seni, senjata, hingga alat transportasi dan komunikasi. Benda-benda bernilai sejarah dan budaya ini dikumpulkan dari berbagai daerah di Nusantara. Melalui koleksi yang cukup lengkap ini pengunjung dapat memperoleh pengetahuan seputar kebudayaan zaman pra sejarah hingga masa awal kemerdekaan Indonesia.

Untuk koleksi yang khas dari wilayah Jawa Timur, Museum Mpu Tantular menyajikan beberapa benda seni seperti topeng dan peralatan karapan sapi dari Madura, angklung asal Banyuwangi, Reog Tulungangung, dan wayang purwo dari Jawa Timur.
Selain memamerkan koleksi yang cukup kaya, museum ini juga kerap mengadakan kegiatan seperti lomba melukis tingkat SD sampai SMA dan pertunjukan-pertunjukan kesenian lainnya.

C. Lokasi
Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

D. Akses
Masih dalam konfirmasi.

E. Harga Tiket
Masih dalam konfirmasi.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Masih dalam konfirmasi.

(Dari berbagai sumber)

Museum Pos Indonesia

0 komentar
Pernah dengar tentang Gedung Sate di Bandung? Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia pasti mengenal bangunan unik dengan atap mirip tusuk sate yang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat tersebut. Tetapi, apakah Anda tahu bahwa di sayap timur Gedung Sate berdiri sebuah museum tentang pos yang dibangun tahun 1931? Mungkin tak banyak di antara kita yang tahu, bahwa selain keunikan Gedung Sate yang sudah terkenal itu, terdapat obyek wisata sejarah yang tak kalah menariknya untuk kita kunjungi, yakni Museum Pos Indonesia.Museum Pos Indonesia dapat dikatakan merekam perjalanan sejarah layanan pos di Indonesia sejak jaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Gedung yang digunakan sebagai museum tersebut dibangun sekitar tahun 1920 oleh arsitek J. Berger dan Leutdsgebouwdienst, dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissans. Sejak 1933, gedung seluas 706 meter persegi ini kemudian difungsikan sebagai museum, dengan nama Museum Pos Telegrap dan Telepon (seringkali disingkat Museum PTT) (http://www.egamesbox.com).

Meletusnya Perang Dunia II dan masa Pendudukan Jepang pada tahun 1941 menyebabkan museum dengan koleksi berbagai benda-benda pos dari seluruh dunia ini tidak terurus. Bahkan sejak masa revolusi kemerdekaan hingga awal akhir 1979 Museum PTT makin tak terperhatikan. Baru pada awal 1980, Perum Pos dan Giro membentuk sebuah panitia untuk merevitalisasi museum agar berfungsi kembali sebagai sarana untuk memamerkan koleksi benda-benda pos dan telekomunikasi. Ikhtiar ini membuahkan hasil dengan diresmikannya museum tersebut pada Hari Bhakti Postel ke-38, yakni tanggal 27 September 1983 oleh Achmad Tahir, Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi ketika itu. Museum ini diberi nama Museum Pos dan Giro, mengikuti nama perusahaan milik pemerintah yang membawahi museum tersebut (http://www.museum-indonesia.net).


Museum Pos Indonesia tampak samping

Perubahan nama kembali terjadi di tahun 1995, ketika nama Perum Pos dan Giro berubah menjadi PT Pos Indonesia (Persero). Nama Museum Pos dan Giro menyesuaikan dengan nama baru perusahaan, menjadi Museum Pos Indonesia. Peran dan fungsi museum ini juga makin berkembang. Tak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi, museum ini juga menjadi sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi, layanan informasi, serta sebagai obyek wisata khusus (http://cptshtia.blogspot.com).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang makin memudahkan pengiriman pesan, baik melalui jaringan internet maupun telepon seluler, membuat layanan pos makin kurang diminati. Surat menyurat maupun pengiriman kartu pos kini seolah telah ketinggalan jaman. Oleh sebab itu, keberadaan Museum Pos Indonesia makin penting untuk memperlihatkan perkembangan teknologi pengiriman pesan dan barang dari jaman awal perusahaan pos pada tahun 1930-an hingga layanan terkini. Koleksi yang dipamerkan tak hanya sebatas perangko maupun kartu pos, melainkan juga diperluas dengan memerkan berbagai peralatan pos, buku-buku, serta visualisasi dan diorama kegiatan pengeposan. Dengan perluasan benda dan koleksi museum, menjadikan museum ini sebagai museum pos yang cukup lengkap menceritakan sejarah perusahaan pos di Indonesia.

B. Keistimewaan

Museum Pos Indonesia sangat cocok bagi Anda para pegila filateli, sebab museum ini memiliki sekitar 50 ribu lembar perangko dari sekitar 178 negara di dunia. Koleksi yang begitu kaya tersebut dikumpulkan sejak museum ini didirikan, yakni 1933 hingga sekarang. Selain dapat menikmati koleksi berbagai perangko, pengunjung juga dapat melihat benda-benda pos lainnya yang sarat akan nilai sejarah.

Di lantai pertama misalnya, wisatawan akan langsung disambut oleh pameran berbagai perlengkapan karyawan sejak jaman kolonial hingga sekarang. Di ruang pameran ini Anda dapat membandingkan perkembangan pakaian dinas karyawan pos, juga peralatan-peralatan pos yang sudah terlihat sangat kuno. Salah satu yang menyolok mata adalah patung tokoh pos Indonesia, yaitu Mas Soeharto. Mas Soeharto merupakan tokoh pos yang hilang karena diculik oleh Belanda. Patung tersebut menjadi salah satu upaya menghargai tokoh pos yang banyak berjasa pada perkembangan layanan pos di Indonesia ini.


Patung tokoh pos Indonesia, Mas Soeharto

Masih di lantai pertama, wisatawan juga diperlihatkan berbagai alat seperti timbangan surat, timbangan paket, kantong pos, stempel pos, kendaraan pengantar surat, serta peralatan-perlatan pos tempo dulu lainnya. Ada juga semacam replika yang menggambarkan para pegawai pos yang sedang bekerja. Penggambaran melalui replika ini sangat membantu untuk mengetahui seperti apa proses layanan pos pada jaman dahulu hingga sekarang. Sementara di sudut-sudut ruangan ditampilkan pula gambar-gambar proses pembuatan prangko, pencetakannya, hingga siap digunakan oleh konsumen.


Replika petugas pos dan timbangan paket.

Selain lantai pertama, ruang pamer lainnya adalah di lantai bawah tanah (basement). Di tempat inilah para pelancong dapat menyaksikan berbagai koleksi perangko dari berbagai negara. Perangko-perangko ini ditempatkan di dalam lemari-lemari dari kaca yang disebut vitrin. Susunan lemari ini berderet dari koleksi terkuno hingga koleksi terkini, dengan kategori perangko yang mengacu pada negara asal perangko tersebut diproduksi. Dari sekitar 50 ribu koleksi perangko, beberapa kelompok koleksi sengaja diberi pengaman khusus, seperti palang besi dan dikunci. Hal ini mengingat koleksi-koleksi tersebut terbilang kuno dan langka, sehingga jika dinilai dengan nominal uang, maka nilainya akan sangat mencengangkan. Bisa mencapai miliaran rupiah. Untuk menyaksikannya, wisatawan pun secara khusus harus didampingi petugas (http://cptshtia.blogspot.com).


Vitrin tarik yang memamerkan koleksi perangko dari berbagai negara.

Sebagian besar koleksi perangko istimewa di museum ini memang berasal dari Belanda. Hal ini tidak begitu mengherankan, sebab sedari awal museum ini memang didirikan oleh perusahaan pos milik Belanda. Meski demikian, tidak berarti Museum Pos Indonesia abai untuk memperlihatkan sejarah perangko dunia. Salah satu koleksinya berupa lukisan perangko pertama di dunia yang disebut "The Penny Black". Perangko ini bergambar kepala Ratu Victoria dan diterbitkan pertama kali tahun 1840. Di samping lukisan perangko pertama itu, dipajang pula gambar Sir Rowland, pencipta perangko pertama tersebut yang semula merupakan pekerja di Dinas Perpajakan Inggris. Dalam keterangan yang tertera di museum, kita bisa tahu ternyata pada awalnya biaya pengiriman surat ditanggung oleh si penerima. Namun, sistem ini akhirnya dihentikan dan diganti karena pernah terjadi kasus penerima surat yang menolak membayar biaya pengiriman surat.

Selain sejarah perangko pertama di dunia, ada juga perangko pertama di Indonesia. Bentuknya bukan lukisan, melainkan perangko asli. Perangko yang terbit pada 1 April 1864 ini berwarna merah anggur dengan gambar Raja Willem III. Harganya ketika itu sekitar 10 sen (http://cptshtia.blogspot.com).

Berbagai peralatan pos pada jaman dulu juga dipamerkan di lantai bawah tanah ini, misalnya berbagai macam bentuk bis surat yang dikumpulkan dari seluruh Nusantara. Kemudian ada juga gerobak besi kuno yang dahulu digunakan untuk mengangkut surat dari kantor pos ke stasiun kereta api. Sementara peralatan yang lebih modern adalah sebuah mesin penjual perangko otomatis. Namun sayang, mesin ini sudah rusak.

Koleksi lainnya yang juga cukup bernilai adalah poset-poster surat emas (golden letter). Poster-poster ini merupakan replika surat-surat kuno yang dibuat pada zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara, seperti Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, dan Majapahit. Meskipun disebut surat emas, namun pada kenyataannya gambar poster tersebut tidak lagi menunjukkan kilau emas pada goresan huruf-hurufnya. Hal ini karena usia surat tersebut telah berabad-abad, sehingga ketika dibuat replikanya tidak lagi menunjukkan warna kemilau emas.

C. Lokasi

Museum Pos Indonesia terletak di sayap timur Gedung Sate, tepatnya di Jalan Cilaki, nomor 73, Bandung, Indonesia. Bangunan museum menyatu dengan Kantor Pusat PT Pos Indonesia.

D. Akses

Museum Pos Indonesia terletak di pusat kota Bandung, sehingga memudahkan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke tempat ini. Wisatawan dapat memulai perjalanan dari Kota Jakarta. Jarak antara Jakarta – Bandung terpaut sekitar 180 kilometer. Dari Jakarta, wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Apabila menggunakan kendaraan umum, wisatawan bisa memilih menggunakan jasa kereta api atau menggunakan bus umum. Sesampainya di stasiun kereta api atau di terminal di Kota Bandung, Anda dapat memanfaatkan angkutan kota atau taksi menuju Gedung Sate. Dari Gedung Sate, Anda tinggal melangkahkan kaki menuju sisi timur gedung. Ada papan petunjuk kecil menuju museum ini. Jika bingung, Anda dapat bertanya kepada satpam atau pegawai di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Museum buka setiap hari dari Senin – Minggu pukul 09.00 – 16.00 WIB. Pada hari libur nasional museum ini tutup. Jika wisatawan ingin berkunjung dengan rombongan dalam jumlah besar, sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada pengelola museum melalui telepon 022-420195, pesawat 153. Konfirmasi kunjungan ini penting supaya pelayanan pengelola museum tetap maksimal.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang berkunjung ke Museum Pos Indonesia tidak dipungut biaya (gratis).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Museum Pos Indonesia telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti ruang pameran tetap, ruang perpustakaan, ruang gudang koleksi, ruang bengkel atau reparasi benda-benda koleksi, serta ruang administrasi. Selain itu, pengunjung Museum Pos Indonesia juga dapat meminta para petugas untuk mendampingi kunjungan, sehingga kunjungan Anda dapat lebih maksimal.

(Dari berbagai sumber)

Museum Bahari Indonesia

0 komentar

Menara Syahbandar Di ujung Utara Ibukota Jakarta, tepatnya pada kawasan kuno pelabuhan Sunda Kelapa, berdirilah Museum Maritim (Museum Bahari) yang memamerkan berbagai benda peninggalan VOC Belanda pada zaman dahulu dalam bentuk model atau replica kecil, photo, lukisan serta berbagai model perahu tradisional, perahu asli, alat navigasi, kepelabuhan serta benda lainnya yang berhubungan dengan kebaharian Indonesia. Museum ini mencoba menggambarkan kepada para pengunjungnya mengenai tradisi melaut nenek moyang Bangsa Indonesia dan juga pentingnya laut bagi perekonomian Bangsa Indonesia dari dulu hingga kini.

Museum ini juga memiliki berbagai model kapal penangkap ikan dari berbagai pelosok Indonesia termasuk juga jangkar batu dari beberapa tempat, mesin uap modern dan juga kapal Pinisi (kapal phinisi Nusantara) dari suku Bugis (Sulawesi Selatan) yang kini menjadi salah satu kapal layar terkenal di dunia.

Berlokasi di Jl. Pasar Ikan no 1. Jakarta Utara, Telepon: 6693406



Museum Bahari
(Sumber: Museum Bahari Indonesia)

Apa Itu Museum

0 komentar

Museum, berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan.

Secara etimologis, museum berasal dari kata Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan dengan kegiatan seni. Bangunan lain yang diketahui berhubungan dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh Ptolemy I Soter pada tahun 280 SM. Museum berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan manusia semakin membutuhkan bukti-bukti otentik mengenai catatan sejarah kebudayaan. Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan llmu Pengetahuan. Salah satu dari sembilan Dewi tersebut ialah: MOUSE, yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya Mnemosyne.Dewa dan Dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Museion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendekiawan yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi.

Pengertian Museum dewasa ini adalah:
"Sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya". (Definisi menurut ICOM = International Council of Museeum / Organisasi Permuseuman Internasional dibawah Unesco). Museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil-hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi Kebudayaan dan llmu Pengetahuan.

Musem mempunyai fungsi sebagai berikut: 1. Pusat Dokumentasi dan Penelitian llmiah 2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum 3. Pusat penikmatan karya seni 4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa 5. Obyek wisata 6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan llmu Pengetahuan 7. Suaka Alam dan Suaka Budaya 8. Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan 9. Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME.

Di Indonesia, museum yang pertama kali dibangun adalah Museum Radya Pustaka. Selain itu dikenal pula Museum Gajah yang dikenal sebagai yang terlengkap koleksinya di Indonesia, Museum Wayang, Persada Soekarno, Museum Tekstil serta Galeri Nasional Indonesia yang khusus menyajikan koleksi seni rupa modern Indonesia

(Sumber: Direktorat Museum)

 
footer